Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Thursday, March 5, 2015

Doa Dahsyat Urwah bin Azzubair

Bismillaahir Rahmaanir Rahiimi Dzissyani ‘Adziimil-Burhaani Syadiidis Sulthaani maa syaa Allaahu kaana ‘auudzu billaahi minas Syaithaan’.”

Tulisan Arabnya:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ذِي الشَّانِ، عَظِيْمِ الْبُرْهاَنِ، شَدِيْدِ السُّلْطاَنِ ماَ شاَءَ اللهُ كاَنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطاَنِ. 
Artinya:
Dengan Nama Allah; Maha pengasih; Maha penyayang, Pemilik kelakuan, yang Maha dahsyat penjelasanNya, Maha Dahsyat kekuasaanNya. Yang Dia kehendaki telah ada. Saya berlindung pada Allah dari Syaitan.
cerita singkat dari doa diatas :
Hisyam bin Urwah berkisah, “Sebelum menjadi Khalifah, Umar bin Abdil-‘Aziz, pernah mendatangi ayah. Dengan terheran-heran, dia bercerita ‘semalam saya menyaksikan keajaiban. Saat itu saya sedang berbaring di atas kasur, di atas sotoh (balkon). Saya mendengar suara menggemuruh. Di saat menengok, saya yakin suara menggemuruh tersebut, derap kaki 'pasukan berkuda Asas'. Ternyata mereka barisan pasukan Syaitan berjumlah sangat banyak. Berbaris-baris sekelompok demi sekelompok. 

Mereka berkumpul di reruntuhan perumahan, di belakang rumah saya. Iblis juga datang ke sana’.
Setelah mereka berkumpul banyak, Iblis berteriak keras sekali. Hingga yang belum datang, cepat-cepat datang. Dia berteriak ‘siapa mau menggoda Urwah bin Azzubair, untuk saya?’.
Setelah menjawab ‘kami’, sekelompok Syaitan pergi untuk menggoda Urwah.
Setelah kembali, mereka berkata ‘kami tidak mampu menggoda dia sedikitpun’.
Iblis berteriak lagi, lebih keras ‘siapa sanggup menggoda Urwah, untuk saya?’.
Setelah menjawab ‘kami’, sekelompok lain, mendatangi untuk menggoda Urwah.

Dalam waktu lama, mereka baru pulang. Untuk berkata ‘kami tak mampu menggoda dia sedikitpun’.
Teriakan Iblis selanjutnya, dahsyat sekali. Tadinya saya menyangka bumi terbelah karenanya. Mereka berbondong-bondong datang, dengan cepat. Dan ditanya oleh Iblis ‘siapa yang sanggup menggoda Urwah, untuk saya!’.

Mengerikan sekali, semua menjawab ‘kami!’. Lalu mereka bergerak cepat berarak-arak, untuk mendatangi dan menggoda Urwah.
Sangat lama, mereka baru pulang. Dan melaporkan ‘kami tak mampu menggoda dia sedikitpun’.
Iblis pergi dengan marah. Diikuti oleh mereka semuanya."
Pada Umar bin Abdil-‘Aziz, Urwah berkata, "Ayah saya, Azzubair bin Al-Awwam RA’, pernah berkata; ‘saya pernah mendengar Rasulallah SAW’ bersabda ‘tak satu lelaki pun, yang berdoa dengan ini doa, di awal malam dan di awal siangnya, kecuali pasti Allah melindungi dia dari Iblis dan pasukannya.

sumber : ust. H.Shobirun Ahkam

Saturday, February 28, 2015

Impian

Jadikanlah impian kita semata urusan akhirot



Bolehlah bermimpi ingin jadi dokter,owner,direktur tapi jangan lupa semua impian kita niatkan untuk perjuangan Agama islam. seperti yang tertera dalam hadist dibawah ini :
Jadikanlah impian kita semata-mata untuk tujuan akhirat. Jika ingin meraih keduniaan,buatlah dunia sebagai amal sholih untuk tujuan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ



“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465, shahih)



Setelah impian kita tercapai jangan lupa bersyukur !!!

Doa Agar Mendapatkan Cinta-NYA

 Cinta-Nya


mencari cinta-Nya (Allah) :
1. niat yang benar (karna Allah)
2. mengerjakan fardu-fardunya(menjaga ibadah-ibadah wajib)
3. memahami dan menghayati ilmu (dapat meng-aplikasikan dlm kehidupan sehari-hari).
Semuanya perlu kita doakan agar cinta allah berkembang :
Allahumma bi’ilmiKal ghoiba waqudrotiKa ‘alal-khalqi ahyinii maa ‘alimtal-hayaata khairan lii watawaffanii idzaa ‘alimTal-wafaata khairan lii. Allahumma waasaluKa khasyataKa fil-ghaibi wassyahadah. Waasaluka kalimatal-haqqi firridha wal-ghadhab. waasaluKal-qashda fil-faqri wal-ghinaa. waasaluKa naa’iiman laa yanfad. waasaluKa qurrata ‘ainin laa tanqadhi’. waasaluKarridhaa ba’dal-qadhak. waasaluKa bardal-‘aisyi ba’dal-maut. waasaluKa ladzzatannadlari ilaa wajhiKa wassyauqa ilaa liqaaiKa fii ghairi dharraa’a mudhirratin walaa fitnatin walaa mudhillah. Allahumma zayinnaa biziinatil-iimaan. Waj’alnaa hudaatan muhtadiin.
Artinya:
Ya Allah dengan IlmuMu pada barang-barang ghaib, dan dengan QodratMu atas segala makhluq, hidupkan saya, selama Kau tahu hidup lebih baik untuk saya. Matikan saya, ketika Kau tahu mati lebih baik untuk saya.
Ya Allah saya juga mohon:
Khusyuk padaMu di waktu-waktu tidak tampak dan nyata.
Kalimat (berbicara) benar, ketika ridha dan marah.
Sederhana ketika fakir dan kaya.
Saya juga mohon padaMu, kenikmatan sempurna yang tak habis. Saya juga mohon padaMu, pendingin (hiburan) mata yang tak putus. Saya juga mohon padaMu, ridha setelah diqodar. Saya juga mohon padaMu, dingin (nikmat)nya hidup setelah mati. Saya juga mohon padaMu, nikmatnya memandang pada WajahMu, rindu pada pertemuanMu, dalam keadaan tidak bahaya maupun membahayakan, tidak dalam kerusakan yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami, dengan hiasan iman. Dan jadikan kami sebagai pembimbing-pembimbing yang mendapatkan bimbingan.
lebih lengkapnya silahkan kunjungi : http://mulya-abadi.blogspot.com/2013/12/doa-agar-cinta-allah-berkembang.html

Indahnya Cinta Dalam Islam

Ketupat in Heidelberg
“Ketika Cinta Indah Terjaga, Ketika itulah Kebarokahan Cinta”



Cerpen tentang Romansa.Tidak biasa pada umumnya.
Selalu ada kisah dibalik tempat-tempat yang mengesankan.Ada jawaban di setiap goresan impian yang dituliskan.
Bertajuk hikmah bagi setiap pembacanya.

Hannan Tsabita


Indahnya Cinta Dalam Islam (6)

Ketupat in Heidelberg

“Ketika Cinta Indah Terjaga, Ketika itulah Kebarokahan Cinta”


Hannan Tsabita


Pondok Pesantren Asmaul Husna

Dua bulan sudah Balqis melakukan riset tuk selanjutnya menyusun skripsi. Diantara orang-orang yang tengah asik menikmati liburan mahasiswa, Balqis berpacu dengan skripsi dan bimbingan dosen. Liburan juga dimanfaatkan Balqis tuk kajian-kajian rutin di Bulan Ramadhan, kajian privat pun ditekuninya tuk mengejar impian menjadi ustadzah.
Awal tahun 2017 akhirnya tiba, bersyukur Balqis bisa maju ujian pendadaran dan dinyatakan lulus. Sungguh kado terindah diawal tahun bersama selendang cumlaude di sasana wiyata mandala tepat 19 Februari.
Balqis menghabiskan malam wisudanya dengan berkumpul bersama Abi dan Umminya di kampung halaman. Makan malam bersama dan tiba-tiba Ummi memecah obrolan.
“Nak, sekarang kamu sudah lulus. Rencana kamu selanjutnya apa?”
Balqis diam sejenak sambil memikirkan kalimat yang baik untuk kedua orangtuanya.
“Mohon ridhonya Ummi. Balqis insyaAllah ingin melanjutkan S2. Tapi sebelumnya berencana tes menjadi ustadzah dulu selama dua bulan, rencananya berangkat minggu depan. Dan, ummm....” jawab Balqis lalu dengan malu-malu melanjutkan perkataannya.
“Dan Balqis juga minta ridho Abi Ummi, Balqis ingin segera terjaga, Ummi.” Lanjut Balqis sembari tersenyum malu.
“Untuk S2 dan menjadi ustadzah, Ummi sangat senang kamu punya impian-impian dunia akhirat. Keduanya baik dan Abi Ummi setuju. Tapi kalau bisa kamu juga berusaha bisa mandiri dengan cari beasiswa ya, Nak. Kamu tau sendiri kan, kalau masih ada tanggungan adik-adikmu.”
Balqis diam mengangguk sembari tersenyum.
“Soal menikah, yaa insyaAllah Abi dan Ummi sudah ridho. Memang Balqis sudah punya calon?”
“he he belum Ummi, baru kepinginan saja.”
“Yah yang penting sudah ada niat. Ngomong-ngomong soal calon, minggu kemarin Ummi ketemu dengan Ms Raihan. Masih ingat kan?”
“Mas Raihan Athif Ramdhani, maksud Ummi? Yang dulu dekat sama adik?”
“Iya, sekarang juga masih dekat. Kemarin waktu jemput adikmu buat kajian, dia bercanda sih pengin kalau misal jadi menantu Ummi.”
Balqis berpikir sejenak, ingin jujur tentang istikhorohnya tapi belum siap. Khawatir jika Umminya ternyata menginginkan Raihan.
“Menurut Ummi, Mas Raihan gimana?”
“Ummi sih setuju-setuju aja kalau kamu sama Mas Raihan. Dia anaknya sholeh, santun, ustadz lulusan pondok pesantren internasional di Jombang. Kalau urusan keduniaan, tentu bicara bahasa inggrisnya bagus. Mungkin bisa mendukungmu tuk S2 di luar negri. Bukannya kamu pengin banget ke Eropa? Kabarnya dia juga lulusan sarjana sastra inggris.”
Balqis semakin khawatir, sepertinya orangtuanya cukup berharap dirinya dengan Raihan. Informasi dari Umminya membuat Balqis juga jadi berpikir tuk mempertimbangkan pemuda itu menjadi suaminya.
Beberapa hari berikutnya, seusai Shalat Maghrib, duduk bersama di Mushala tuk berdzikir menunggu datangnya Shalat Isya. Lalu tiba-tiba Balqis dengan hati-hati mengungkapkan.
“Umm, Maaf Abi Ummi. Tentang Mas Raihan, Balqis sepertinya belum bisa. Jujur sebenarnya Balqis sudah ada yang diistikhorohi sejak lama.”
“hehe, kamu memikirkan tawaran Ummi itu ya, Nak. Ummi itu hanya cerita dan memberi kamu referensi, tidak bermaksud memaksa. Tentang memilih suami, Ummi dan Abi serahkan sama Balqis. Toh, yang ngejalanin kamu juga.”
“Yang jelas Ummi slalu berdo’a supaya anak-anak Ummi bisa punya jodoh yang sholeh-sholehah dan barokah, syokor-syokor aktivis dakwah atau punya background seorang ustadz. Alhamdulillah lagi kalau punya kedua-duanya.” Lanjut Ummi Balqis
Balqis lega, itu artinya Ummi dan Abi Balqis membebaskan pilihan padanya, dengan syarat-syarat yang bahkan sejalan dengan keinginan Balqis.
“Kalau boleh Abi dan Ummi tau, siapa yang kamu istikhorohi. Barangkali Abi bisa lamarkan untuk kamu?” Abi Balqis yang biasanya hanya diam, tiba-tiba menyahut
“Umm, insyaAllah besok sebelum berangkat tes ustadzah, Balqis akan menemui Ustadz Trisna. Beliau sering mengisi dakwah di kampus dan cukup kenal dekat dengan yang Balqis Istikhorohi. Kalau Abi ada waktu mungkin bisa menemani.”
Keesokan harinya Balqis dan Abinya berangkat ke perantauan menemui Ustadz Trisna. Ustadz Trisna selain sebagai ustadz juga seorang pensiunan, jadi hari-harinya sering di rumah dan hanya mengisi kajian pada beberapa malam saja. Tak sulit menemui beliau.
“Bagaimana Ukhti, kabarnya sudah wisuda ya?”
“Alhamdulillah sudah Ustadz, dua minggu yang lalu. Maaf belum sempat mengabari.”
“Tidak apa-apa. Selain silaturahim, sepertinya mungkin ada hajat lain yang mau disampaikan atau bisa saya bantu?”
“Iya Ustadz. Saya ditemani Abi kesini ingin menyampaikan dan minta tolong sesuatu.”
Ustadz Trisna diam menyimak Balqis.
“Saya ingin sekedar cerita dulu. Desember 2015 lalu saya tertarik dengan seorang pemuda. Lantas saya bertekad istiqomah untuk menjaga perasaan saya dan mengistikhorohinya. Hingga tadi sebelum bertemu ustadz saya juga masih istikhoroh. Saya juga slalu ingat dengan nasihat ustadz tuk tidak berharap 100% yang diistikhorohi adalah milik saya. Jika memang dalam doa istikhoroh itu intinya adalah pasrah. Maka saya pasrah, ibarat menunggu sekian lama di ruang tunggu stasiun kereta, kendati kereta yang datang bukan yang dinginkan, saya insyaAllah menerima dengan pasrah, asalkan tujuan kereta sama yaitu Surga. Intinya saya serahkan pada Allah.”
“Kalau boleh tau, siapa nama pemuda itu?” tanya Ustadz Trisna
Balqis menyerahkan secarik kertas merah jambu dan selembar surat. Si merah jambu tak lain ialah rangkain do’a istikhoroh lengkap dengan sebuah nama pemuda dan ayahnya. Tertanggal Desember 2015. Arkan Daffa Zahroni bin Alif Dharmawan.
“Semoga Ustadz berkenan menyaksikan surat ini dan menyampaikannya. InsyaAllah saya akan menunggu jawabannya dua bulan kedepan. Semoga Mas Daffa juga berkenan istikhoroh.”
“Mohon maaf Ukhti, sbelumnya saya juga ingin bercerita dulu. Beberapa minggu yang lalu saya bertemu Ustadz Alif Darmawan. Beliau melamarkan anaknya pada seorang gadis yang kebetulan anak teman Ustadz Alif.”
Sontak Balqis berdegup jantungnya. Lalu lalang pikiran menyelimuti. Namun dengan bijak ia menanggapi.
“Yasuda ustadz, saya mengikuti jalannya saja terserah bagaimana. Biar yang pertama didahulukan dulu urusannya. Saya siap menunggu apapun hasilnya.”
Beranjak dari rumah Ustadz Trisna, Balqis melanjutkan perjalanan menuju stasiun kereta dalam keadaan kalut.
“Mungkinkah gadis itu Mba Khazna?” tanya Balqis dalam hati
“Mba Khazna memang pantas dipilih oleh Mas Daffa. Sudah sarjana, mandiri, ustadzah, pengurus pondok pesantren, cantik pula. Lengkap sudah ia juga seorang khafidzah Qur’an. Siapa orangtua yang tidak senang punya menantu seperti sosoknya.” Gumam Balqis dalam hati
“Mb Khazna memang jadi bunga yang diidamkan kebanyakan lelaki sholeh, pantas saja Mas Daffa jika memilihnya.” Gumamnya terus terusan
Diantar Abinya, Balqis menuju Pondok Pesantren Asmaul Husna dalam perasaan kalut. Dua bulan disana ia mengikuti serangkaian tes untuk bisa menjadi ustadzah yang profesional. Keilmuan tentang Al Qur’an dan Hadis diujikan sehari-hari. Tak sulit mengikuti tes di pondok yang cukup terkenal di Jawa Timur itu. Sembari terus mengistikhorohi Daffa, Balqis tetap berusaha fokus dengan cita-citanya menjadi ustadzah, agar lengkaplah ia menjadi sarjana yang ustadzah.
Will 2017 Be Amazing?
Jauh dari Pondok tempat Balqis berada, di perantauan ada Ustadz Trisna yang tengah menyampaikan amanah dari Balqis dan orangtuanya. Beliau menyampaikan seperti yang Balqis ceritakan tempo dulu, juga sebelumnya menyerahkan dua titipan. Si Merah Jambu dan surat pun dibaca oleh Daffa saat itu pula. Tertulis rangkaian kalimat dalam selembar surat.
Assalamu’alaikum Akhi Daffa,
Teriring doa semoga akhi selalu dalam kasih sayang dan lindunganNya.
Sebelum menyampaikan maksud surat ini, perkenankan saya bercerita pada akhi.
Alkisah sebuah kisah di Eropa. Ada sehamparan taman bunga yang indah disana, berbagai jenis bunga tumbuh menawan, saling menanti dipetik oleh tuannya. Saat musim semi tiba seorang Putra Mahkota berjalan-jalan mengelilingi taman itu. Memilah dan memilih manakah setangkai bunga yang pantas dibawa pulang, tuk menambah keindahan istananya. Banyak sekali bahkan terhitung sangat banyak warna warni bunga yang cantik nan elok disana. Putra Mahkota pun bingung.
Taukah akhi? Diantara hamparan bunga itu, ada setangkai krisan putih yang sudah empat musim Eropa, setia menanti Putra Mahkota tuk memetiknya. Selama musim itu krisan putih menjaga keindahan dan kesucian dirinya. Krisan berharap suatu saat yang tepat Putra Mahkota kan memetiknya tuk dijadikan perhiasan terindah dalam istananya.
Taukah akhi? Siapa Putra Mahkota itu?
Dialah akhi yang ditakdirkan pernah menarik hati setangkai krisan putih, membuatnya bersabar dalam istikhoroh, menanti hingga saatnya tiba. Selalu memohon pada Mahapencipta tuk menjaga dirinya dari tangan-tangan jail yang hendak merusak keindahannya.
Taukah akhi? Manakah bunga yang hendak dipetik?
selanjutnya adalah pilihan Putra Mahkota, dan Krisan Putih pasrahkan pada Yang Kuasa. Demikian kiranya semoga akhi sudah mengerti maksud surat ini.
Wassalamu’alaikum
Krisan Putih
Balqis
Dua bulan sudah akhirnya Balqis lulus menjadi ustadzah. Selama di pondok ia tak bisa menggunakan handphone dan alat komunikasi lainnya. Sepanjang perjalanan kereta pulang dari Kediri menuju kota perantauan, Balqis mulai membuka-buka informasi. Ternyata banyak email masuk. Memang dulu, setelah wisuda ia langsung memasukkan beberapa lamaran di universitas ternama di Eropa dan Indonesia, juga kampus S1 nya dulu. Sayangnya ia belum diterima S2 di Eropa. Meski begitu, Alhamdulillah ada email lain dari universitas Eropa tempat ia melamar beasiswa, menawarkan undangan Conference gratis di Heidelberg pada Juni nanti. Bertepatan selama satu minggu setelah lebaran.
Setibanya di perantauan, dengan ditemani Mb Qisty, Balqis menyempatkan diri ke rumah Ustadz Trisna. Berharap akan ada angin segar yang menyejukkan.
“Saya sudah sampaikan amanah Ukhti dan orangtua. Mas Daffa sangat mohon maaf pada Ukhti dan menitipkan ini pada saya tuk Ukhti Balqis. Saya harap Ukhti bisa sabar dan menerima, sebagaimana Ukhti bilang bahwa akan pasrah dengan keputusan Allah.” Kata Ustadz Trisna hati-hati sambil menyerahkan sebuah surat dan undangan pernikahan. Tertulis rangkaian surat dari Daffa.
Assalamu’alaikum Ukhti Balqis,
Teriring doa semoga ukhti juga slalu dalam kasih sayang dan lindunganNya.
Ustadz Trisna telah menyampaikan dua titipan pada saya. Trimakasih Jazakillahukhoiro atas doa yang telah dipanjatkan Ukhti untuk saya, dan selalu berusaha menjaga kesucian diri Ukhti. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat dan ukhuwah kita saudara seiman.
Saya sangat mohon maaf pada Ukhti,
kiranya dengan secarik undangan ini Krisan Putih bisa tahu manakah Bunga yang kan dipetik oleh Putra Mahkota. Sekali lagi mohon maaf, semoga Ukhti berkenan.
Putra Mahkota
Daffa
Balqis pamit pulang tak bersemangat. Qisty hanya bisa menghiburnya sampai di stasiun kereta. Sepanjang perjalanan ke kampung halaman Balqis bersandar lesu memandangi undangan yang tak lebih indah dari pemandangan gelap diluar kaca jendela kereta. Bintang-bintang pun tak sedang bersinar malam itu. Kesedihan sudah lebih dulu membuatnya tak sanggup membuka undangan yang tertulis namanya sebagai tamu undangan.
“Mba Khazna memang pantas mendampingi Mas Daffa.” Sendu Balqis dalam hati
Balqis sudah bertekad untuk pasrah, tapi kesedihan tentu wajar tuk sekedar menyelimutinya sesaat. Sesampainya di rumah, orangtua Balqis keheranan melihatnya. 
“Sudah lulus jadi ustadzah, katanya juga dapat tawaran conference ke Heidelberg, kug malah sedih anak Ummi ini?” tanya Ummi Balqis keheranan
“Mas Daffa mau menikah Ummi.” Jawab Balqis singkat
“Alhamdulillah, berarti insyaAllah ia kan segera terjaga bersama jodohnya. Kug kamu malah sedih. Memang kapan menikahnya?” tanya Umminya tak cukup menghibur Balqis
“Halaman depan sih tertanggal 29 Mei 2017. Itu tepat di usia Mas Daffa yang ke 25 tahun, Ummi. Usia dimana Baginda Nabi menikah dengan istri tercintanya, Khadijah.” Jawab Balqis sedih berkaca-kaca
“Berarti besok ya. Yasuda jangan terlarut sedih, gak baik. Sekarang Balqis istirahat dan siap-siap untuk besok. Balqis tetap ada niat menghadiri undangan kan? Kewajiban muslim kan menghadiri undangan. Ngomong-ngomong calonnya Mas Daffa siapa? Apa kamu mengenalnya, Nak?”
“Mungkin Mba Khazna, ummi.”
“Kug mungkin, itu undangannya ya? Sudah dibuka belum?” tanya Ummi
“Belum, Ummi.” Kata Balqis, lalu dengan berat hati membuka undangan yang sejak tadi masih utuh dalam bungkusnya. Seketika itu Balqis tercengang kaget melihat nama yang tertulis di dalamnya. Balqis tak menyangka, bahkan berkali-kali mengusap pandangannya tak percaya.
“Kenapa, Nak? Siapa nama calonnya Mas Daffa, kamu kenal?”
Balqis tak bisa berkata-kata, matanya masih keheranan tak percaya dengan dua nama yang tertulis dalam undangan.
Mohon Doa dan Restu atas pernikahan kami,
Arkan Daffa Zahroni & Balqis Hasna Kamilah
Orangtua Balqis hanya tersenyum melihat anaknya yang tampak tersenyum ragu dan bingung tak percaya.
“Ummi dan Abi sudah tau?” tanya Balqis menyelidik
Mereka hanya tersenyum.
“Bagaimana bisa, Ummi?” tanya Balqis masih tak percaya
“Kami mempersiapkan semua, selama kamu di Kediri.”
Balqis seketika langsung sujud syukur dan memuji nama Allah berkali-kali.
Mulai lebaran tahun 2017 kini bisa ia lewatkan bersama pendamping hidupnya. Suami Balqis yang tak lain ialah Daffa, rela mengambil cuti kerja tuk menemani istri tercinta menghadiri conference ke Heidelberg. Setibanya disana, mereka bersantai di tepi Sungai Neckar tepat di samping bawah Old Bridge, jembatan tua yang melintang diatas sungai. Sambil menikmati hidangan ketupat yang sengaja dibawa dari Indonesia. Sungguh indahnya anugrah Allah bisa menikmati suasana lebaran di Heidelberg, tempat impian kedua Balqis setelah Makkah. Pemandangan Istana Tua yang masih kokoh di sebrang sungai pun turut menjadi hiasan kebahagiaan Balqis dan Daffa.
“Emm, kalau boleh tau, Kenapa Mas Daffa akhirnya memilih saya?”
Daffa tiba-tiba mengeluarkan undangan pernikahan merah jambu dan secarik kertas merah jambu pula. Menunjukkannya pada Balqis.
“Berjodoh bukan karena aku kamu atau kita yang saling memilih, tapi Allah yang memilih kita. Terimakasih Jazakillahukhoiro, sudah menjaga hati untuk Putra Mahkotamu ini, Krisan Putihku Sayang”
“Aku ingin slalu mencintaimu karna Allah. Semoga kita berjodoh hingga ke Surga nanti.” Ucap Daffa lalu memeluk erat Balqis diantara kilauan Sungai Neckar yang terpancarkan matahari senja.
“aamiiin.” 

Indahnya Cinta Dalam Islam (5)




Ketupat in Heidelberg


“Ketika Cinta Indah Terjaga, Ketika itulah Kebarokahan Cinta”

Hannan Tsabita



Mengukir Impian di Kayangan


Perkuliahan awal semester kembali dimulai, setelah Balqis menemani adik mahasiswa saat liburan semester di Pantai Marina. Saatnya Balqis berkutat lagi dengan kuliah dan tugas-tugas. Menyusun rencana riset skripsi menjadi bagian agenda penting semester ini.
Dua semeseter yang tersisa ternyata Balqis belum mencapai cumlaude, ada rasa kecewa dalam dirinya tapi justru menjadi cambuk untuk lebih bersemangat lagi. Selama dua bulan kedepan Balqis berencana untuk melakukan riset skripsi. Sesuai saran Hanifa, akhirnya Balqis memutuskan melanjutkan riset di daerah Air Terjun Kayangan. Konon kabarnya sebuah desa disana nyaman untuk ditinggali dan menarik dijadikan tempat riset. Air mengalir sepanjang sungai di desa itu masih jernih, hamparan sawah dibawah kaki bukit masih hijau-hijau segar tanpa polusi. Tentu tak terlewatkan Air Terjun Kayangan yang tenang menyegarkan. Cocok dijadikan tempat riset sekaligus mengasingkan diri dari hingar bingar perkotaan.
Sebelum berangkat riset, Balqis menyempatkan diri mengikuti kajian Al-Quran di masjid dekat kampusnya. Disana tanpa sengaja bertemu Ustadz Trisna, yang pernah ia undang di acara dakwah kampus. Qisty yang saat itu menemani Balqis ikut berbincang-bincang dengan Ustadz Trisna.
“Gimana kabarnya ukhti Balqis?” sapa Ustadz membuka perbincangan.
“Alhamdulillah baik ustadz. Balqis sekalian pamit dan minta doanya, insyaAllah minggu depan berangkat riset untuk skripsi.”
“Ya mudah-mudahan, lancar, sukses, barokah. Alhamdulillah berarti semoga tidak lama lagi insyaAllah wisuda ya? Apa sudah ada keinginan menikah atau malah sudah punya calon?” tanya Ustadz Trisna pelan sembari tersenyum
“Amiin. Kalau keinginan sudah ada ustadz, tapi ingin fokus menyelesaikan studi dulu. Untuk calon juga belum ada. Masih disimpan dan dijaga oleh Allah. InsyaAllah begitu.”
“Yasuda, semoga studinya diberi kemudahan. Tapi jangan karna terlalu fokus studi jadi melalaikan ibadah menikah ya. Pesan saya kalau belum bisa menikah supaya bisa menjaga diri, sambil mempersiapkan diri menjadi calon istri yang sholehah. Kalau sudah ada yang disukai, istikhoroh dulu sambil menunggu selesai studinya. Tapi jangan ada pemikiran bahwa yang diistikhorohi itu adalah 100% milik kita.” Kata Ustadz Trisna
“Trimakasih Jazakallahukhoiro Ustadz, insyaAllah pesan dan nasehatnya bermanfaat”
Minggu terakhir sebelum keberangkatan Balqis semakin sibuk mempersiapkan data-data riset dan bekal selama dua bulan. Balqis tiba di Desa Kayangan bersama keenam teman risetnnya pada hari Sabtu. Mereka disambut oleh warga desa dengan ramah tamah, dan ditempatkan di sebuah rumah penduduk desa sekitar satu kilometer dari air terjun. Balqis tak ingin dua bulan itu terlewatkan sia-sia begitu saja. Ia berjalan-jalan menikmati suasana senja pedesaan, tak ketinggalan lembaran diary dan pena berwarna violet yang ia bawa. Sampailah Balqis di tepi sungai selebar dua meter yang tenang dan jernih airnya. Sungai itu tampak memisahkan dua hamparan sawah dibawah kaki Bukit Kayangan. Suasana yang sangat tepat tuk kembali bersemangat mengukir impian. Terukir lewat pena violet rangkaian impian di tahun 2017.
“Hope Allah bless 2017 be amazing moment . Amiin...
Fresh Graduated Cumlaude.
Have been Work as an Entrepreneur.
Full Scholarship of Master.
Be an Ustadzah
Marriage with a Man who has age 25th years old.
Umroh and Haji in Mecca. 
“Journey in Heidelberg.”
Ketujuh impian baru itu tentu harus dikejar Balqis dengan kerja keras. Sisa-sisa dua semester bukan waktu yang lama dan tentu tak mudah mengejar cumlaude. Ditambah kesibukan aktivisnya yang tak henti-henti mengantri. Persiapan menjadi ustadzah juga membuatnya menyisihkan waktu lebih banyak untuk privat kajian.
Usai sudah Balqis menorehkan tinta-tinta impian, lalu dengan sengaja ia menarik selembar kertas merah jambu, terselip dalam diary. Ia melirik kertas itu berulang-ulang, sesekali menatap air mengalir lembut juga segerombolan angsa dibawah mega senja. Sembari melihat jauh angsa-angsa beterbangan, Balqis menarik nafas panjang, mengumpulkan energi tuk membaca sebuah doa yang telah tertulis. Yah, doa istikhoroh, lengkap dengan sebuah nama pemuda dan ayahnya.

Lantas ia melipat rapi si merah jambu itu dan menyelipkan lagi diantara lembaran-lembaran diary. 

Indahnya Cinta Dalam Islam (4)


Ketupat in Heidelberg

“Ketika Cinta Indah Terjaga, Ketika itulah Kebarokahan Cinta”

Hannan Tsabita

Perputaran Istikhoroh Cinta
Balqis merasa tak yakin tentang perasaannya saat itu, apakah ia bersungguh-sungguh suka dengan Daffa atau tidak. Tapi selalu ada perasaan ingin bertemu. Ia mencoba tuk minta petuah pada Bu Faridha, sosok ustadzah keibuan yang ia kenal semenjak pertama kali menginjakkan kaki di perantuan.
“Menyukai itu boleh, yang gak boleh kalo ekspresi suka yang berlebihan apalagi sampai melanggar aturan Allah Rasul.” ujar Bu Faridha
“Iya ibu, insyaAllah Balqis berusaha menjaga diri. Tapi Balqis bingung dengan perasaan ini, Bu. Balqis ingin mendapatkan sosok suami yang sholeh tuk membimbing dunia dan akherat. Tapi Balqis takut kalau larut dengan Mas Daffa, tidak siap patah hati lagi.”
“Nak, Istikhoroh saja. Dalil orang yang istikhoroh itu tidak akan menyesal. Tapi selama kamu istikhoroh harus netral dan benar-benar pasrah dengan keputusan Allah. Apapun itu hasilnya tawakallah, Nak.”
Balqis mulai berfikir dan yakin dengan istikhoroh. Sudah hampir tiga bulan ia istikhoroh Daffa dan perasaannya masih sama. Rasa suka itu justru semakin bertambah dengan sikap-sikap yang ditunjukkan Daffa. Bulan kedua awal tahun 2016 menjadi perjumpaan kedua pula, Balqis lagi-lagi mendapat tawaran untuk membina adik-adik angkatan mahasiswa. Saat itu ia hanya menjadi tamu undangan sama halnya dengan Daffa. Pantai Marina yang lumayan ditempuh dengan perjalanan jauh, namun Daffa ikut bergabung di tengah-tengah kesibukan kuliah dan pekerjaan. Balqis jadi semakin berkesan dengannya.
“Eitz, nglamun aja!” sapa Vista mengagetkan Balqis dari belakang. Vista yang tak biasanya bergabung dengan aktivis mahasiswa dakwah, kali ini ikut menemani Balqis di Pantai Marina.
“Cuma menikmati deburan ombak kug. Tuh liat, keren kan pas udah nyampe di tebing karang.” Balqis mengelak.
“Eh, ngomong-ngomong kamu pernah janji mau cerita sama aku kan?”
“Oh itu.” Balqis teringat dan berlanjut mengkisahkan masa lalunya pada Vista.
“Umm, tapi kamu udah gapapa kan? Yah, berarti Mas Fathan bukan jodoh kamu.”
“Mungkin begitu. Tapi aku udah bisa ikhlas kug. Aku jadi bisa berfikir kalau waktu itu aku mencintai orang yang kurang tepat.”
“Dulu aku dibutakan rasa suka, memandang Mas Fathan adalah pemuda sholeh. Tapi aku salah. Pemuda sholeh mana yang berani menggandeng dan memperkenalkan calonnya di hadapan orang banyak padahal belum ada ikatan pernikahan.” Lanjut Balqis datar
“Sip Sip baguslah. Ehem, ngomong-ngomong udah ada yang mengisi hati lagi? He he” tanya Vista menggoda
“Sudah diistikhorohi.”
“Terus Terus, ceritain dong.” Vista mulai merengek-rengek manja bak anak kecil minta jajanan.
“Baru ketemu dua kali sih. Ngobrol juga cuma sekali karena ada urusan, itu aja dia gak mau berlama-lama. SMS juga kalo penting-penting aja. Mas itu juga kalo bales SMS singkat dan seperlunya.”
“Hlah kayak gitu kug bisa suka. Namanya orang jatuh cinta itu kan biasanya karna diperhatiin, sering SMS-an, Telfon, BBM-an pokoknya ngobrolnya intens gtu. Kamu aneh deh Balqis. Ngobrol aja jarang, SMS dibalesnya singkat malah seneng.hmm” Ucap Vista keheranan.
“Dulu kamu pernah bilang kan, kalau akan belajar dari hikmah-hikmah setiap yang aku ceritakan. Yah beginilah pemahamanku. Justru dengan sikap Mas itu, aku jadi semakin yakin kalo ia sosok sholeh yang bisa menjaga. Berbeda waktu dulu dengan Mas Fathan, malah hampir sering bercandaan, yang seperti itu kurang bagus.”
“Aku yakin dengan istikhoroh, pasrah dan menjaga diri akan lebih berkah di mata Allah. Aku gak tau siapa jodohku nanti, setidaknya sembari menanti jodoh perlu mempersiapkan diri menjadi sholehah dan menjaga diri dari pelanggaran agama. Itu pun kalo kita ingin mendapatkan yang Berkah. Berkah atau barokah itu artinya penuh kebaikan.” Jelas Balqis panjang lebar
“Wah, kayaknya aku harus banyak belajar sama kamu nih, biar gak brekele kayak gini, he he. Umm, dari tadi kamu bilang Mas itu Mas itu, emang Mas itu siapa sih, Balqis? Kasih tau dong.” Tanya Vista menyelidik
“Aku juga masih belajar kug. He he kalau itu rahasia, cukup aku dan Allah yang tau.”

“Kamu sukanya main rahasia-rahasia-an deh.” 

Indahnya Cinta Dalam Islam (3)

Ketupat in Heidelberg
“Ketika Cinta Indah Terjaga, Ketika itulah Kebarokahan Cinta”


Hannan Tsabita


Cahaya di Puncak Menoreh

Setahun sudah terlewatkan Balqis mengosongkan hati dari mencintai seorang pemuda. Ia mencoba berhati-hati dalam mengelola hatinya. Tak ingin jatuh dalam jurang kemaksiatan, tidak pula ingin patah hati terlalu dalam. Balqis mulai menyibukkan dirinya sebagai mahasiswa dan aktivis kampus. Tawaran riset dan mejadi panitia even-even kemahasiswaan mulai menghampirinya. Dalam waktu dekat even mahasiswa dakwah yang akan diselenggarakan, itu artinya akan menguras energi Balqis lebih banyak.
Waktu yang bersamaan Balqis menerima undangan pernikahan dari sahabat lamanya, Salwa. Ada rasa senang dan iri bukan karena suami Salwa adalah yang ia cintai. Tapi iri melihat jodohnya adalah sosok yang mandiri dan memilki background seorang ustadz. Usai menghadiri pernikahan Salwa, Balqis melanjutkan kegiatan di Daerah Perbukitan Menoreh untuk keakraban mahasiswa dakwah.
Balqis sedikit terlambat, tapi masih bisa mengikuti sesi pembukaan oleh ketua panitia. Sebelumnya Balqis tak pernah melirik ataupun tertarik sedikitpun pada Daffa. Entah kenapa, isi nasehat pembuka yang disampaikan dengan wibawanya membuat Balqis menjadi tertarik. Entah ini efek usai menghadiri undangan pernikahan atau apa, yang jelas Balqis merasa sevisi dengan Daffa dalam hal agama.
Bukit Menoreh yang telah indah dengan hamparan hijau deretan perbukitan, semakin mempesona jika telah sampai puncaknya. Yah, Puncak Suroloyo namanya. Puncak yang harus dibayar keelokannya dengan mendaki lebih dari dua ratus anak tangga. Cukup melelahkan tapi angin segar di atas sana bisa menyejukkan jiwa, ditambah lagi dengan sejuknya isi nasehat Daffa.
Balqis tak ingin larut terlalu dalam dengan perasaan terhadap Daffa. Ia mulai berbesar hati untuk bisa pasrah dengan skenario Yang Kuasa. Balqis menyikapi dengan mencintai dalam diam dan istikhoroh. Semenjak itulah Desember 2015 menjadi momen pertama Balqis mengistikhorohi Daffa. Setelah setahun sudah luka lama itu bisa pulih. 

Indahnya Cinta Dalam Islam (2)

Ketupat in Heidelberg
“Ketika Cinta Indah Terjaga, Ketika itulah Kebarokahan Cinta”
Hannan Tsabita


Gemuruh Air Terjun Kayangan
Usai sudah kuliah lapangan Balqis selama lima hari, pemandangan alam cukup menghibur meski melelahkan. Namun begitu hatinya belum bisa sembuh akan luka lama yang masih membekas.
Heart beats fast Colors and promises How to be brave How can I love when I'm afraid To fall But watching you stand alone All of my doubt Suddenly goes away somehow One step closer.....
“Assalamu’alaikum, ehem bukannya malah baca quran sih neng.” Sapa Qisty dari balik pintu kamar kos Balqis yang tak tertutup rapat. “ Udah berapa kali nih lagu diputer mulu.” Lanjut Qisty
“Wa’alaikumussalam, eh mba. pengen dengerin aja sih” balas Balqis sendu tanpa semangat
“Kalo tiap dengerin bikin kamu tambah patah hati, jangan didengerin terus dong lagunya.” Pinta Qisty
“Aku kenal lagu ini karna Mas Fathan suka lagu ini mba. Meski ternyata bukan buat aku sih. Yah, kadang aku kangen mba.”
Balqis masih merasa sedih karna seseorang yang ia suka ternyata sudah mempunyai calon. Bahkan Allah mempertemukan Balqis dengan wanita itu tanpa sengaja di sebuah pondok pesantren tempat mereka berlibur kuliah. Sebuah kebetulan yang tidak masuk akal. Alkisah berawal ketika Balqis tengah berjalan menuju pintu masuk pondok.
“Assalamu’ailaikum mb. Boleh kenalan?” Tiba-tiba ada yang pelan menepuk punggung Balqis dari belakang. Tak lain ialah Yasmin, calon psikolog yang cantik dan sosok muslimah yang anggun. Lalu Balqis dan Yasmin berteman baik selama menjalani pesantren ramadhan di pondok. Waktu yang tengah bersamaan Fathan sedang ada riset di Air Terjun Kayangan.
Sepulangnya dari pondok Balqis berjumpa dengan Hanifa dalam keadaan menangis.
“Hloh mba, kenapa menangis, risetnya lancar kan?”
“Aku suka Mas Fathan, Balqis.” Sesunggukan Hanifa mencurahkan isi hatinya. Balqis terdiam kaget tidak menyangka namun tetap tenang.
“Oh, tapi kenapa mba malah menangis?”
“Sebulan penuh mba mengenal dekat Mas Fathan ketika riset. Baru kali ini mba suka sama pemuda sholeh nan tampan, Balqis. Mba sadar kalo belum menjadi wanita sholehah, tapi apa salahnya kalo suka dengan laki-laki seperti Mas Fathan.”
“Gak salah kog mba, lalu apa masalahnya mba?”
“Ms Fathan udah punya calon, Balqis. Dan waktu riset bareng, Mas Fathan tau kalo mba suka sama dia. Perjalanan pulang dia malah ngenalin calonnya sewaktu makan bareng tim riset. Mungkin maksud dia biar mba ga terlanjur dalam suka sama dia dan cepat melupakan, tapi jangan kayak gini caranya. Itu namanya disengaja dan mungkin terlalu cepat buat aku, Balqis.” Hanifa semakin sesunggukan
“Nama calonnya siapa mba?” Balqis tiba-tiba terbersit penasaran
“Yasmin.”
“Yasmin? Yasmin Hafidzah?” Balqis kaget keheranan
“iya” jawab Hanifa singkat. Balqis tersentak hatinya, ternyata Allah membuat skenario yang manusia tak bisa menyangkanya. Balqis hanya bisa memendam kesedihan sambil menghibur Hanifa. Dua kesedihan Balqis lengkaplah sudah, ternyata orang terdekatnya mencintai pemuda yang sama dan harus patah hati bersama pula. Bahkan Yasmin pun hadir melengkapi patah hati ini. Mungkin, tidak akan sesakit jika tak pernah mengenal sosok Yasmin.
Qisty yang sejak tadi mendengarkan kisah Balqis, kembali menghiburnya, karena ini sudah kesekian kali Balqis mengkisahkan rasa patah hatinya pada Fathan.

“Yasudah, sabar dan ikhlas. Gak perlu diingat-ingat terus. Toh, sudah kamu istikhorohi juga, insyaAllah tidak akan menyesal. Pertemuan kamu dengan mereka itu juga hasil istiqoroh. Udah sekarang kita tadarus aja.” Kata Qisty sambil mematikan lagu A Thousand Years